
Stefano Chiesa Suryanto
Jawara Matematika yang Doyan Bercanda
Penggemar sushi dan sashimi (olahan ikan mentah ala Jepang, red) ini tertawa saat ditanya apa kegemarannya selain matematika. “Komputer!” ujarnya. Coba dengar apa alasannya suka komputer : “Abis komputer enak, bisa dimakan, asal ngga dikecapin,” Lho, Ano ngga doyan kecap? “Bukan tapi nanti kalo dikecapin komputernya rusak,” katanya, lalu tertawa berderai.
Itulah Stefano Chiesa Suryanto. Jawara matematika yang langganan menggondol emas di ajang olimpiade taraf internasional. Di luar hobinya akan matematika, bocah 12 tahun yang disebut-sebut sebagai ‘The Golden Boy’ ini tetaplah anak biasa yang lucu, menggemaskan, dan hobi bercanda.
“Kalo ngga bisa bercanda nanti otaknya jebol,” ujarnya lucu.
Kesibukan dan jadwal padat sebagai ‘anak lomba’ bukan halangan bagi Ano –sapaan akrabnya- untuk beraktivitas sebagaimana layaknya anak-anak. Selain bercanda, bocah dengan IQ 145 ini senang menonton serial kartun di akhir pekan, jalan-jalan ke mall, dan bahkan ber keliling Jakarta bersama keluarga. Tapi tentu saja dengan porsi yang lebih sedikit daripada anak-anak lain sebayanya, karena waktu Ano sebagian besar dihabiskan untuk belajar matematika dan mengotak-atik program di komputer. Bahkan, ia sudah dapat membuat program sendiri yaitu program yang menampilkan data dan berhitung.
Menurut Ano, apa yang dilakukannya saat ini bukan karena tekanan ataupun tuntutan dari Papi-Maminya (Ary Suryanto dan Widya, red). “Aku senang matematika karena banyak tantangannya. Sedangkan komputer, karena aku senang bikin program, nantinya cita-citaku mau jadi programmer,” kata anak kelas 6 SD Santa Theresia , Menteng, yang mengidolakan Bill Gates ini, mantap. Ia menambahkan bahwa dalam mengerjakan soal matematika tidak boleh gampang menyerah meskipun menghadapi soal yang sulit.
Itu sebabnya, Ano tak pernah merasa bosan dalam belajar matematika. Ia menjalani dengan suka hati. Tak heran, piala yang didapat Ano berjejer-jejer memenuhi ruang kerja ayahnya, ruang guru di sekolah, bahkan di apartemen tempat tinggalnya. Tak tanggung-tanggung, piala yang dikumpulkan bocah berpipi gembil ini nyaris semuanya dari ajang kompetisi matematika bergengsi, bahkan Ano sudah mengumpulkan setidaknya enam medali emas hasil dari olimpiade matematika!
Untuk kategori emas saja, Ano berhasil memboyongnya dari ajang World Sakamoto Mathematics Championship 2008 (WOSAMAC) tingkat nasional di Jakarta pada 3 Februari 2008, Gold Medal and Best of the best trophy 6th World Mathematic Competition di Imperial Aryaduta-Karawaci Indonesia pada 29 Maret 2008, Perfect Score Singapore and Asean School Maths Olympiads (SASMO 2008) yang diselenggarakan di Jakarta pada 1-29 April 2008, Gold Metal Award Invitation Round Singapore – Asia pacific mathematical Olypiad for Primari School 2008 yang diselenggarakan di Hwa Chong Institution (High School Section), Singapore, pada 24 Mei 2008, First Class Honour Individual Perfomance Po Leung Kok 12th Primary Mathematics World Contest 2008 di Hongkong pada 12-16 Juli 2008, The Champion The Best Overall Perfomance, Pho Leung Kok 12th Primary Mathematics World Contest 2008 di Hongkong pada 12-16 Juli 2008.
Itu baru prestasi Ano yang membuahkan emas, di luar perak, platinum, dan ajang kejuaraan nasional. Menurut Ary Suryanto, Papi Ano, hampir disetiap kompetisi yang diikuti Ano selalu pulang dengan gemilang.
“Padahal kita sendiri tidak menargetkan harus selalu juara. Kita hanya berharap, bukan keharusan. Karena kalo terlalu berharap menang atau sampai mengharuskan menang, pada saat ngga menang nanti kecewa,” kata Ary Suryanto, Ayah Ano.
Ary Suryanto tak pernah menargetkan Ano untuk selalu menjadi juara, hal yang dilakukannya adalah dengan selalu menerapkan disiplin dan kerja keras pada anak-anaknya sedini mungkin. Sulungnya, Bernardo Vaulli Suryanto juga jagoan matematika, peraih perunggu dalam kontes matematika SD Internasional Pertama di Bangkok, Thailand, tahun 2003 yang menghantarkannya memeroleh beasiswa pendidikan di Singapura selama 4 tahun.
Selain disiplin, hal lain yang selalu dilakukan Ary untuk anak-anaknya adalah memberi nutrisi terbaik, fasilitas nomor satu termasuk guru les terbaik, memberi perhatian khusus, tidak ambisius dan memaksakan kehendak, serta percaya pada Tuhan dan nasib.
Percaya pada nasib-lah yang membuat Ary tidak menargetkan apa-apa untuk Ano. Meski demikian, prestasi Ano paling stabil diantara peserta lainnya. Bahkan, ia pernah memeroleh penghargaan MURI sebagai peserta termuda yang mendapatkan medali dan tropi dalam ajang International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2007.
Karena kegigihannya dalam menaklukan sulitnya soal-soal matematika ini, Ano didapuk sebagai bintang iklan bersama seorang tokoh nasional dalam rangka edisi kemerdekaan Indonesia. Dalam tayangan berdurasi tak lebih dari 30 detik ini ditampilkan kerja keras Ano sebagai seorang anak bangsa dalam mengharumkan nama Indonesia di kompetisi tingkat dunia. Mulai pertengahan Agustus lalu, wajah bulat imut-imut milik Ano dapat dilihat wara-wiri di televisi.
Tampang menggemaskan Ano meringis geli saat ditanya pengalamannya syuting yang menghabiskan waktu satu hari di kawasan Tangkuban Perahu. “Syuting itu melelahkan. Disuruh loncat-loncat, pura-pura tidur, pokoknya capek, lebih susah daripada ngerjain soal matematika,” katanya. Saat ditanya frekuensi loncat-loncat-nya, Ano tersenyum cerdik, “Ngga banyak juga loncat-loncatnya, soalnya aku takut perahunya rusak,” ceplosnya tertawa. Ano-Ano…
Saat diajak berbincang soal makanan, pehobi olah raga bulutangkis ini antusias. “Aku awalnya ngga doyan sushi sama sashimi,” katanya. Usia lima tahun, Ano diajak papinya ke supermarket, lalu disana mereka membeli ikan mentah yang kemudian dimasak ala sashimi. “Pertama kali nyoba ngga suka. Dikecapin, terus langsung ditelen,” kata Ano, tersenyum. Lama kelamaan, ternyata Ano menyukai makanan jenis ini bahkan menjadi favoritnya.
Hal lain yang membuat sang Golden Boy berseri-seri adalah saat membicarakan angka dan perkalian. Ditanya soal perkalian, Ano hapal diluar kepala dari perkalian dari mulai angka 9 sampai 15 dalam waktu tak lebih dari tiga detik!
Diakhir perjumpaan, GC menanyakan nomor kontak langsungnya. Dengan riang, bocah berkacamata ini menyebut sejumlah angka dalam hitungan kurang dari satu detik. Saat diminta menyebut sekali lagi, bocah kelahiran 5 Desember 1996 ini menyenandungkan angka-angka nomor ponselnya dengan durasi tak kalah cepat dari saat pertama kali ia menyebut. Wah…wah…dasar jawara matematika! (tr)



