towards student controlled learning (dengan konsep komunikasi)


harry b. santoso ‘towards student controlled learning’

Filosofi pembelajaran yang diadopsi Martin dalam LMS-nya ini adalah Social Constructionist Pedagogi. Ada empat konsep utama di belakang istilah pedagogi tersebut, yaitu Constructivism, Constructionism, Social Constructivism, dan Connected & Separate.Pertama, Constructivism. Pandangan ini berpendapat bahwa manusia secara aktif membangun (construct) pengetahuan baru saat berinteraksi dengan lingkungannya. Apapun yang seseorang lakukan baik membaca, melihat, mendengar, merasakan, dan menyentuh selalu dihubungkan dengan pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya (prior knowledge). Pengetahuan dapat diperkuat bila seseorang dapat menggunakannya dengan sukses dalam lingkungan yang lebih luas. Seseorang bukanlah hanya bank memori yang secara pasif menyerap informasi, ataupun pengetahuan dapat ditransmisikan pada seseorang hanya

dengan membaca sesuatu atau mendengarkan seseorang berbicara.Namun hal ini bukan berarti seseorang tidak dapat belajar apa-apa dari membaca sebuah halaman web atau mengikuti pelajaran, tentu seseorang tersebut bisa, tetapi lebih menekankan bahwa ada interpretasi lebih dari pada hanya sekadar transfer informasi dan satu otak ke otak yang lain.Menurut Mohamed Ally (Athabasca University) pada bab Foundations of Educational Theory for Online Learning dalam buku Theory and Practice of Online Learning, implikasi teori pembelajaran Konstruktivisme pada pembelajaran online antara lain sebagai berikut: (1) proses pembelajaran berlangsung secara aktif; (2) pembelajaran mampu mengkonstruksi pemahamannya sendiri daripada menerima apa adanya apa yang disampaikan pengajar. Konstruksi pengetahuan difasilitasi menggunakan instruksi online interaktif yang baik (Murphy & Cifuentes, 2001); (3) pembelajaran berbasis kolaboratif dan kooperatif ditantang untuk memfasilitasi pembelajaran konstruktivisme (Hooper & Hannafin, 1991; Johnson & Johnson, 1996; Palloff & Pratt, 1999); (4) pembelajar diberikan kontrol atas proses pembelajaran; (5) pembelajar diberi waktu dan kesempatan untuk melakukan refleksi dan internalisasi informasi; (6) pembelajaran dibuat agar mampu menghasilkan makna bagi pembelajar; dan (7) pembelajaran perlu dilakukan secara interaktif untuk menciptakan higher-level learning dan social presence, serta membantu dalam mengembangkan pemaknaan pribadi (personal meaning).Kedua, Constructionism. Constructionism menyatakan bahwa belajar sangat efektif dilakukan pada saat menjelaskan suatu konsep/hal bagi orang lain dalam rangka membangun pengalaman (experience). Hal ini dapat berupa apapun baik dari kalimat pernyataan atau postingan internet, hingga pada artifacts seperti lukisan, sebuah rumah atau sebuah paket perangkat lunak.Sebagai contoh misalnya seseorang membaca halaman tertenu dari buku hingga beberapa kali namun tetap saja lupa pada keesokan hari- namun jika seseorang mencoba untuk menjelaskannya ide-ide yang ada dalam halaman buku tersebut pada orang lain dalam format improvisasi bahasa sendiri, atau menghasilkan sebuah slideshow yang menjelaskan konsep-konsep, akan dapat dijamin bahwa seseorang akan memiliki pemahaman yang lebih baik dimana pemahaman yang diperoleh lebih terintegrasi dalam pemikiran seseorang. Hal inilah mengapa seseorang yang mencatat pada saat kuliah, walaupun dia tidak pernah membaca catatannya kembali.Ketiga, Social Constructivism. Social Constructivism akan memperluas ide-ide di atas ke dalam sebuah kelompok (social group), secara kolaboratif menciptakan budaya kecil dalam membagi artifacts dengan membagi meanings. Ketika seseorang ‘membenamkan’ atau melibatkan diri dalam dalam budaya seperti ini, seseorang akan belajar sepanjang waktu bagaimana cara menjadi bagian dari budaya tersebut, pada banyak level.Contoh yang sangat sederhana adalah obyek seperti sebuah cangkir. Obyek tersebut dapat digunakan untuk banyak keperluan, namun bentuknya telah memberikan sugesti beberapa pengetahuan mengenai penampung cairan. Contoh yang lebih kompleks adalah sebuah sebuah online course – yang tidak hanya bentuk dari perangkat lunak yang mengindikasikan sejumlah cara bagaimana seharusnya online courses bekerja, namun aktivitas-aktivitas dan teks yang dihasilkan dalam grup secara keseluruhan akan membantu bagaimana tiap orang bertingkah laku dalam sebuah grup.Keempat, Connected and Separate. Ide ini melihat lebih dalam berbagai motivasi dari individu dalam sebuah diskusi. Perilaku yang terpisah (separated behaviour) ketika seseorang cenderung untuk mempertahankan ide masing-masing menggunakan logika untuk menemukan celah pada ide yang berseberangan dengannya. Perilaku terhubung (connected behaviour) merupakan pendekatan yang lebih empatik dalam menerima subjektivitas, mencoba untuk mendengarkan dan bertanya sesuatu sebagai upaya untuk memahami sudut pandang yang berbeda. Perilaku terkonstruksi Constructed behaviour adalah ketika seseorang sensitif pada kedua pendekatan dan mampu memilih diantara keduanya pada situasi yang sesuai.

Constructivism adalah pandangan teoritis yang mengatakan bahwa pelajar lebih mengarah pada mengkonstruk daripada hanya sekedar menyerap pengetahuan dari pengalamannya (Ormrod, 2006).“Cognitive theory emphasizing learner interest in and accountability for their own learning which manifests in student self-questioning and discovery” (Parsons, et al, 2001). Vygotsky juga turut menyumbangkan pemahamannya mengenai constructivism, namun ia lebih menekankan pada social constructivism yaitu pandangan teoritis yang memfokuskan pada kumpulan usaha seseorang untuk menyatukan makna pada dunia (dalam Ormrod, 2006)Constructivism adalah pengetahuan baru bahwa siswa mengkonstruk pemahaman mereka sendiri tentang dunia (Elliott, et. al, 2000).Mengutip definisi Constructivism menurut Shuell (1996, dalam Elliott, et al 2000)“The Learner does not merely record or remember the material to be learned and the task to be performed, selects information perceived to be relevant, and interprets that information on the basis of his or her existing knowledge and existing needs. In the process, the learner adds information not explicitly provided by the teacher whenever such information is needed to make sense of the material being studied. This process is an active one which the learner must carry out various operations on the new materials in order for it to be acquired in a meaningful manner”

Dua kata kunci dalam pengertian di atas adalah aktif dan pemaknaan. Aktif berarti mengusahakan berbagai perlakuan pada materi baru agar dapat memiliki makna. Sedangkan pemaknaan itu sendiri berarti pelajar mencocokkan pengetahuan baru dengan skema yang sudah ada dalam pikiran sehingga diketahui asosiasi dari keduanya.Constructivist merupakan penengah dari dua aliran sebelumnya yang saling bertentangan yaitu nativist dan empiricist. Constructivist setuju dengan pandangan nativist bahwa orang-orang membentuk sendiri skemanya mengenai dunia, tetapi constructivist tidak setuju bahwa pemahaman akan konsep yang kompleks adalah faktor bawaan. Di sisi lain, constructivist juga setuju akan pandangan empiricist yang menyatakan bahwa pengalaman kita dengan orang lain penting untuk pembelajaran. Namun, constructivist menolak bahwa integrasi sosial merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran dan bahwa pemahaman itu muncul secara tiba-tiba karena adanya interaksi (Parsons et. al, 2001)Jadi, dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa constructivism adalah suatu pandangan teoritis yang menyatakan bahwa siswa diberi kebebasan untuk mengkonstruk pengetahuan melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman kita dengan orang lain.

II Kedudukan Constructivism

Cognitive stucturalism

Metacognition

Consructivism

Modern Day piaget

Classroom Teaching

Metacognition and development

Novices and Expert

Learning Strategies

a. Modern-Day Piaget

Piaget memperkenalkan beberapa ide dan konsep serta menjelaskan perubahan yang terjadi dalam logical thinking pada anak-anak dan remaja, yaitu :a. Anak-anak adalah pelajar yang aktif dan memiliki motivasi.Piaget percaya bahwa anak-anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat secara pasif apa yang mereka lihat dan dengar.b. Anak-anak mengkonstruk pengetahuan dari pengalaman mereka.Pengetahuan anak-anak tidak terbatas pada koleksi potongan informasi yang terbatas. Sebaliknya, mereka menyatukan pengalamannya dengan pandangan mengenai bagaimana dunia beroperasi. Piaget menyatakan bahwa anak-anak mengkonstruk belief mereka dengan pemahaman dari pengalaman. Teorinya sering dikenal dengan teori constructivism.c. Anak-anak belajar melalui dua proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi.d. Interaksi dengan satu lingkungan fisik dan sosial sangat penting bagi perkembangan kognitf sang anak.e. Proses equilibration meningkatkan kemajuan yang mengarah pada peningkatan pemikiran yang lebih kompleks.Constructivist mempercayai bahwa struktur kognitif memungkinkan siswa untuk menggunakan pengalaman masa lalunya. Constructivist percaya bahwa struktur kognitif dapat dimodifikasi dengan penjelasan baru mengingatkan kita pada istilah akomodasi ( istilah Piagetian untuk merubah atau memodifikasi skema kognitif untuk merangsang pemahaman dari informasi baru). Namun, tentu saja ide interactionist (pandangan teoritis yang menggambarkan pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan dan pembelajaran) dari Piagetian tentang indivdu yang membangun pengetahuan dalam konteks stimulasi lingkungan adalah inti dari pergerakan langsung ini. Anak-anak secara primer bertanggungjawab terhadap konstruksi, walaupun interaksi sosial dapat menyediakan sebuah kerangka untuk perubahan internal. Ketika dihadapkan pada pengalaman baru, pertama kali kita akan mengasimilasi pengalaman dengan skema yang sudah ada. Tetapi ketika tambahan itu memiliki diskrepansi yang terlalu jauh, kita memodifikasi skema yang sudah ada atau menambahnya secara bersamaan-akomodasi-dengan demikian kita menginternalisasi hal tersebut.Siswa termotivasi untuk belajar karena adanya disequilibrium atau konflik kognitif. Konflik kognitif, merujuk pada Wadsworth (1996) muncul ketika prediksi untuk belajar yang berdasarkan skema yang sudah ada terlebih dahulu tidak sesuai, sehingga mendorong mereka untuk mencari tahu jawabannya.

b. Classroom Teaching

Karakteristik dari constructivist teaching and classroom adalah :1. Student autonomy dimana siswa bertanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri dan diperbolehkan untuk belajar sesuai dengan minat masing-masing.2. Social interaction dimana guru mendorong siswa untuk berinteraksi dengan siswa lainnya maupun guru-guru. Saat siswa berdiskusi, mereka terlibat dalam higher order thinking.3. Cognitive exploration, dimana guru menjadi mediator siswa. Dalam hal ini, guru secara langsung memfasilitasi higher-order thinking skills.

Menurut Honebein (1996 dalam http://www.stemnet.nf.ca/~elmurphy/) ada tujuh sasaran dari pandangan constructivism antara lain:

  1. Memberikan pengalaman disertai proses pembentukan pengetahuan.
  2. Menghasilkan pengalaman dan membentuk apresiasi terhadap beragam pandangan
  3. Memasukkan proses pembelajaran ke dalam konteks sehari-hari
  4. Mendorong murid untuk mengungkapkan pendapat/pikirannya selama proses pembelajaran
  5. Memasukkan proses pembelajaran saat bersosialisasi
  6. Mendorong siswa untuk melihat sudut pandang yang berbeda
  7. Mendorong kesadaran diri siswa dalam proses pembentukan pengetahuan .Pada kelas yang menggunakan pendekatan Constructivim, setiap siswa memiliki peranan yang lebih besar dalam pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator dalam memperoleh pengetahuan dan kemampuan. Guru berperan sebagai guide atau sumber yang bertujuan untuk membangun lingkungan belajar agar siswa dapat memahami informasi yang dperoleh melalui pemahamannya sendiri. Guru lebih menekankan pada proses belajar daripada hasilnya. Berikut perbedaan antara pendidikan tradisional dan pendidikan beraliran constructivism

Pendekatan Tradisional (non-constructivist)

Pendekatan constructivist

Berfokus pada pengembangan kemampuan dasar dan membentuk pemahaman dengan cara bottom-up

Berfokus pada “big idea” dan pengembangan pemahaman dengan cara top-down

Kegiatan belajar mengajar menggunakan buku pelajaran dan buku latihan

Kegiatan belajar mengajar menggunakan sumber tambahan

Siswa dianggap sebagai passive recipients dalam menerima informasi dari guru

Siswa dianggap sebagai active knowledge seekers; mereka membuat kesimpulan sendiri dalam memahami informasi yang diberikan oleh guru

Guru dianggap sebagai ahli yang menyediakan informasi kepada siswa

Guru dianggap sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar

Jawaban yang benar dibatasi

Tidak ada jawaban;semua hipotesis/pendapat siswa dapat diterima

Siswa sering bekerja secara individual pada tugas yang dibuat oleh guru

Siswa sering bekerja sama dalam proyek yang didesain oleh mereka sendiri

Tugas biasanya dikerjakan di luar jam sekolah

Tugas biasanya dilakukan di dalam kegiatan belajar-mengajar, di mana guru memantau kemajuan tugas siswanya

Brooks and Brooks (1993, dalam Elliott, 2000) mengembangkan 5 petunjuk yang dapat digunakan untuk mengadaptasi Constructivist, yaitu

  1. Munculkan masalah yang sesuai dengan siswa. Bila topik yang digunakan sesuai dengan minat siswa, maka proses belajar akan jadi lebih menyenangkan. Guru harus dapat menyajikan topik yang menarik, topik yang dapat mereka prediksi dan uji sendiri, diskusikan oleh mereka sendiri, mengelaborasi pengetahuan yang didapat untuk mengembangkan pengetahuan tersebut lebih jauh lagi, dan kemudian melihat relevansinya (Brooks & Brooks, 1993; Greenberg, 1990)
  2. Struktur pembelajaran di sekitar konsep primer. Guru harus mengidentifikasi “ide besar” bahwa memahami dan menyusun struktur pembelajaran di sekitar mereka merupakan hal yang penting.
  3. Mencari tahu dan menilai pandangan siswa. Pandangan siswa dapat diketahui melalui proses penalaran mereka, pandangan-pandangan tesebut merupakan indikator sejauh mana mereka dapat memahami konsep dan juga sebagai petunjuk bagi guru untuk menentukan materi pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk memodfikasi pemahaman barunya.
  4. Mengadaptasi kurikulum agar sesuai dengan pemahaman baru siswa apabila kurikulum tidak sesuai dengan kebutuhan siswa, maka sebaiknya kurikulum tersebut diganti. Sesuaikan kurikulum tersebut dengan pemahaman yang dimiliki siswa.
  1. Mempertimbangkan pembelajaran siswa dalam konteks pengajaran.Acuan ini mendorong guru untuk menekankan bukan sekedar pada benar atau salahnya jawaban sang siswa, namun lebih kepada bagaimana proses atau cara siswa menemukan jawaban.

II. Aplikasi dalam Dunia Pendidikan.Salah satu aplikasi pandangan contructivism dalam dunia pendidikan adalah penggunaan metode pembelajaran Collaborative Learning (CL) dan Problem Based Learning (PBL) untuk mengembangkan ketrampilan belajar siswa. CL adalah proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota. Sedangkan PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Selama ini pola pengajaran cenderung menghasilkan mahasiswa yang pasif, mereka cenderung bergantung dan menunggu penjelasan yang diberikan oleh guru. Dewasa ini, perubahan dunia yang begitu cepat menuntut mahasiswa untuk mampu mandiri dalam mengolah berbagai informasi yang ada dan terus aktif mengembangkan diri mereka (pandangan constructivist bahwa siswa harus selalu aktif dan memaknai sesuatu). Kesenjangan antara kinerja hasil pembelajaran mahasiswa dengan tuntutan dunia, mendorong metode collaborative learning dan problem-based learning diciptakan. Keduanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan belajar mandiri mereka (self-regulated learning ).Kurikulum yang digunakan dalam CL dan PBL ini dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga mahasiswa berkesempatan (sampai batasan tertentu) untuk menentukan sendiri tujuan dan langkah-langkahnya dalam belajar. Dalam metode ini, siswa membentuk sendiri pengetahuannya yang diperoleh melalui sumber-sumber pengetahuan maupun dari orang lain. Hal ini sesuai dengan pemahaman constructivism bahwa siswa harus aktif dalam membentuk pemahaman baru dari pengetahuan yang ada berdasarkan pengalaman yang dimilikinya.Dalam metode ini terdapat istilah deep learning dan learner-centered. Yang dimaksud dengan deep learning adalah terlibat secara aktif membangun pengetahuan sehingga mencapai pemahaman yang mendalam, sedangkan learner-centered berarti siswa dipandang sebagai pusat dari kegiatan belajar.

.

1918, Constructivism

Suatu pergerakan seni modern yang dimulai di Moscow pada tahun 1920, yang ditandai oleh penggunaan metoda industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan moderen melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris. Gamabr dibawah adalah model dari Menara Tatlin, suatu monumen untuk Komunis Internasional.



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.